Rabu, 09 November 2016

Hiking untuk pemula

Gunung Kapur Ciampea Bogor





Gunung Kapur Ciampea adalah salah satu gunung yg tidak terlalu tinggi yg ada di Bogor, kalo saya bisa sebut sih ini hanya bukin yg memiliki ketinggian dibawah 400mdpl (meter diatas permukaan laut), tetapi jangan anggap remeh loh sob walaupun pendek dan hanya memakan waktu sebentar untuk mencapai puncak tetapi treknya lumayan terjal dan licin jadi untuk kalian yang ingin naik gununng ini harus persiapkan sedikit perbekalan dan air minum tentunya karna dapat menguras banyak tenaga.
 yang paling istimewa dari gunung ini tuh sunrisenya yang bagusnya sampe saya gk bisa berkata-kata ditambah pemandangannya yang aduhay deh, gunung kapur itu memiliki beberapa puncak ada puncak galau, lalana, dan  puncak lainnya, nah di foto itu saya  naik puncak lalana, puncaknya tuh sangat unik karena banyak bebatuan kapur yg tajam-tajam dan viewnya menghadap langsung ke gunung salak dan gunung gede pangrango (Wow!!!) ditambah pemandangan kota bogor yang indah sejuk nyaman itu.
kalo kita sudah sampai di puncak lalana disana ada bale-bale untuk tempat bersantai sambil ngopi-ngopi cantik ( tapi gk ada si mas yg dagang ya), so kalo kalian pengen naik gunung bisa coba hiking ceria ke gunung kapur ini sob, letaknya di ciampea kab bogor dan kalo biayanya tuh cuman Rp.5000/ orang, apabila membawa motor akan dikenakan  tarif parkir Rp.5000 juga (terjangfkaulah)...
Terimakasih sobat-sobat udah mampir ke Blog ini, siapatau gunung kapur bisa jadi alternatif belajar hiking dan untuk rekreasi.


Belajar Dari Indahnya Gunung Salak

Gn salak gudangnya ilmu 



Gunung Salak merupakan kompleks gunung berapi yang terletak di selatan Jakarta, di Pulau Jawa. Kawasan rangkaian gunung ini termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten BogorJawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bogor, tetapi sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, dan dikelola sebagai Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Gunung Salak berusia relatif tua sehingga memiliki beberapa puncak. Geoposisi puncak tertinggi gunung ini ialah 6°43' LS dan 106°44' BT dan dinamakan Puncak Salak I dengan ketinggian puncak 2.211 m dari permukaan laut (dpl.).
Banyak yang mengira asal nama "Salak" adalah dari tanaman salak, akan tetapi sesungguhnya berasal dari kata bahasa Sanskertasalaka yang berarti "perak".

Vulkanologi dan geologi


Gunung Salak dari arah timur.
Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Puncak tertinggi (Puncak Salak I) menurut Hartmann (1938) adalah puncak berusia tertua. Puncak Salak II berketinggian 2.180 m dpl. dianggap yang tertua kedua. Selanjutnya muncul Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.
Terdapat sejumlah kawah aktif yang tidak berasa di puncak. Kawah terbesar, Kawah Ratu, merupakan kawah termuda. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup merupakan bagian dari sistem Kawah Ratu.
Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.
Secara morfologi, Gunung Salak memiliki banyak jurang curam dan dalam. Karena seluruh tubuh gunung sampai puncak tertutup hutan lebat, kontur gunung ini tidak mudah terlihat. Hal ini sering kali menipu pendaki maupun penerbang yang melewati kawasan pegunungan ini.

Pendakian


Litografi tentang Gunung Salak berdasarkan salah satu lukisan Raden Saleh.
Gunung Salak, meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi, baik karena karakteristik vegetasi maupun medannya.
Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur. Puncak yang paling sering didaki adalah Puncak Salak II dan Salak I.
Jalur yang paling ramai adalah melalui Curugnangka, dari sisi utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada Puncak Salak II.
Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati, dekat Cicurug, Sukabumi. Puncak Salak I dapat juga dicapai dari Puncak Salak II, dengan banyak kesulitan, dari Sukamantri, Ciapus. Di Puncak Salak I terdapat petilasan (berwujud kuburan) yang disebut-sebut sebagai petilasan "Embah Salak".
Jalur lain adalah "jalan belakang" lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu, dekat Gunung Bunder.
Gunung Salak populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang ditemukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu. Namun, di puncak Salak I ditemukan kubangan air hujan.
Cimelati Di jalur ini masuk dari desa cibuntu, Jika melewati track ini kita kan bertmu sebuah Vila besar sebelum mencapai pos/shelter 1 dan di sini juga terdapat beberapa air terjun, Di jalur ini banyak air yang cukup, dan tempat terakhir kita mengambil air sekitar 5 Meter kurang lebih dari pos/shelter 3 karna ada saluran air milik warga setempat yang di sebut juga dengan Pos/shelter Air, Setelah pos/shelter ini kita tidak bisa menemukan air maka bawalah cadangan air setelah kita melewati pos/shelter ini. jika anda melewati ini akan melewati 7 pos/shelter yang mana akan tertanda/di berinama di setiap pos/shelter. dan pos yang ke 7 adalah puncak salak 1.

Tutupan hutan

Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).
Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten (Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).
Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka yang bernama Rafflesia rochussenii yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.
Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Margasatwa

Aneka margasatwa ditemukan di lereng Gunung Salak, mulai dari kodok dan katakreptilburung hingga mamalia.
Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor. Jenis-jenis itu ialah Bufo asperB. melanostictusLeptobrachium hasseltiiFejervarya limnocharisHuia masoniiLimnonectes kuhliiL. macrodonL. microdiscusRana chalconotaR. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang(Rhacophorus reinwardtii).
Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunung ini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatellakadal kebun Mabuya multifasciata dan biawak sungai Varanus salvator. Jenis-jenis ular di Gunung Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus) hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa meter.
Gunung Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak kurang dari 232 jenis burung di gunung ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterusPhaenicophaeus javanicus dan P. curvirostrisSasia abnormisDicrurus remiferCissa thalassinaCrypsirina temiaburung kuda Garrulax rufifronsHypothymis azureaAethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica.
Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenai mamalia Gunung Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), surili (Presbytis comata) dan trenggiling (Manis javanica).

Gunung Salak dan kecelakaan penerbangan

Kawasan pegunungan ini termasuk kawasan yang harus dihindari oleh para penerbang, baik pesawat kecil maupun besar. Kondisi geologi dan topografi yang penuh lembah tertutup vegetasi, disertai dengan cuaca (terutama turunnya kabut) yang sangat cepat berubah, sangat membahayakan penerbangan.


Oleh kalangan penerbangan gunung ini tergolong "gunung maut" karena catatan kecelakaan penerbangan yang panjang. Kecelakaan terakhir dan terbesar adalah menabraknya pesawat penumpang sipil Sukhoi Superjet 100 pada tebing gunung pada tahun 2012.

Keindahan Puncak Gunung Gede

Keindahan Puncak Gunung Gede 




Senja menjelang di punggung Puncak Gede Pangrango. Di bawah, di lembah Suryakencana terlihat beberapa tenda warna warni mulai mengembang. Makin gelap di antara tenda-tenda itu muncul rona-rona nyala api dari kayu yang dibakar. Sekilas pemandangan itu terlihat indah. Namun keindahan itu menyimpan potensi bahaya kebakaran.

Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) tempat Lembah Suryakencana merupakan salah satu tempat terpopuler bagi warga Jakarta, dan Bogor yang ingin mendekatkan diri dengan alam. Namun karena kepopuleran itulah menimbulkan ancaman. Saya pernah menyaksikan lebih dari seribu pendaki memadati jalur pendakian di rute-rute gunung itu, terutama pada hari-hari besar seperti 17 Agustus hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Banyak anak-anak muda yang ingin merayakan dan ikut upacara bendera di gunung itu.

Gunung Gede Pangrango sudah seperti pasar atau mal. Saya dan teman-teman pernah mendaki gunung itu lebih dari sepuluh kali, dan selama itu saya menyaksikan perkembangan kawasan gunung itu semakin buruk. Lokasi TNGGP seluas 21.975 hektar yang berada dalam jangkauan pendaki Jakarta, Bogor, Sukabumi, Cianjur, dan Bandung, membuatnya jadi sasaran utama pendakian di akhir pekan, dan hari-hari libur lainnya. Belum lagi ancaman dari pembalakan liar, dan para perambah hutan.

Mewaspadai hal-hal semacam itu adalah itu adalah tugas utama dari pengelola Taman Nasional Gunung Gede Pangrango yang diresmikan tahun 1980 ini. Namun pengelolaan gunung ini terbentur masalah klasik; keterbatasan dana, sumber daya manusia, sarana dan prasarana. Situasi ini terus berlanjut sampai sekarang. Untuk menyiasatinya di TNGGP ada beberapa program yang sedang berjalan seperti adopsi pohon, pusat pendidikan konservasi alam Bodogol, pusat penyelamatan dan rehabilitasi Owa Jawa, yang terbaru adalah suaka elang yang bermitra dengan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.


Gambar 1. Gunung Gede Pangrango

Contoh kecil bisa dirasakan, terkadang para pendaki ingin mendaki di malam hari, dengan tujuan ingin sampai di puncak saat Matahari terbit, sehingga tidak perlu menginap untuk menyaksikan pemandangan alam yang indah itu. Berjaga di malam hari tentu akan menjadi pekerjaan tambahan bagi staf TNGGP. Namun hal ini disiasati dengan membentuk kelompok relawan yang diberdayakan untuk mengontrol pendakian, terutama di malam hari. Para relawan ini biasanya mendata pendaki dan mencocokkannya dengan Simaski (Surat Izin Memasuki Kawasan Konservasi) yang harus dimiliki para pendaki.

Kemudian, apakah para pendaki cukup menjadi penikmat saja? Tentu tidak, para pendaki dan pengunjung pun bisa menjadi mitra. Paling tidak pertama-tama adalah dengan menikmati dan mencintai alam Gunung Gede Pangrango secara benar. Caranya sederhana, para pendaki tidak boleh membuang sampah sembarangan atau lebih baik lagi jika para pendaki memunguti sampah yang mereka temukan ketika turun gunung, untuk mengurangi sampah yang berserakan di kawasan Gunung Gede Pangrango tersebut. Selamat mendaki, dan jagalah kebersihan dan keindahan kawasan Gunung Gede Pangrango.

Ini sedikit dokumentasi yg kita foto saat menaiki gunung gede bersama Siwapalata Sma Taruna Andigha Bogor